Selasa, 30 September 2014

KISAH MEMILUKAN " CINTA SEORANG ANAK KEPADA IBUNYA



          

                 "KISAH MEMILUKAN " CINTA SEORANG ANAK KEPADA IBUNYA"



Seorang janda miskin Siu Lan punya anak umur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue dipasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.

Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah. Siu Lan langsung sangat marah. Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.

Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung2, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang2 tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.

Tiba2 sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tapi masih dapat dibaca,

"Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang tahun".

Jumat, 18 April 2014

TABLO JALAN SALIB JUMAT AGUNG PAROKI ST. FRANSISKUS XAVERIUS BOAWAE















Umat Katolik St. Fransiskus Xaverius Boawae pada Jumat Agung 18 April 2014 mengikuti jalan salib Tuhan Yesus dengan mengikuti Tablo yang dibawakan oleh OMK Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae yang dimulai pukul 09.00. Prosesi  Tablo dimulai dari depan gedung Patronat Boawae dan diakhiri di depan gua maria dimana Yesus akan disalibkan.  Tablo berjalan dengan aman, tertib dan kidmat, ratusan umat mengikuti prosesi tersebut dalam suasana penuh haru. Kornelius Fongo yang berperan sebagai Yesus dalam  Tablo Jalan Salib Jumat Agung  tersebut sungguh menghayati peranya sehingga sebagai manusia  tak tertahankan dan ia pun menitikan air mata penuh haru. Begitu banyak umat yang menangisi prosesi Tablo tersebut ; setelah ditanga apa yang membuat bapak ibu umat menangis ? Dari sekian orang mereka menyampaikan bahwa Tablo hari Jumat Agung ini begitu bagus, kami seolah-olah berada dalam suasana jalan salib Tuhan waktu Yesus menjalankannya. Prosesi berakhir dengan doa penutup dalam gereja.  Selanjutnya dalam nuansa kebersamaan OMK dalam sapaannya Ketua OMK Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae MarthenTai Ule menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terutama pastor Paroki Rm Wempi Dasilva, Pr. Frater  Rino Werang sebgai Sutradara, para pemain, dan semua kru  terlibat  yang dengan caranya masing –masing mendukung  sehingga Tablo Jalan Salib Tuhan pada Jumat Agung di Boawae dapat berjalan dengan baik. Diakhir kebersamaan pastor Paroki menyampaikan profisiat dan terima kasih untuk semua anak-anaku dengan  penuh totallitas  melaksanakan peranya masing-masing sehingga membuat umatmu begitu terkesan. Melayani dengan Kasih itu yang patut diteladani, yang kamu lakukan hari ini hendaknya selalukamu lakukan dimasa-masa yang akan datang“ Pergilah dan lakukan seperti apa yang telah aku lakukan kepadamu “

Kamis, 17 April 2014

PERSIAPAN OMK ST. FRANSISKUS XAVERIUS BOAWAE " Gelar Tablo Jumat Agung 18 April 2014 "


Tunas Muda Harapan Bangsa, Begitu juga "Tunas Muda Harapan Gereja Katolik"

Itulah yang layak diungkapkan untuk generasi muda OMK Paroki Boawae dibawah asuhan Marthen Tai Ule ( Ketua OMK Paroki Boawae ) yang begitu gigih dan penuh semangat mempersiapkan segala sesuatu menyongsong Try hari suci 2014 di gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Boawae. Tak kenal lelah, amarah menjadi guyonan, keseriusan menuai tawa penuh semangat, kemandirian membuat semua untuk berkorban menuju Golgota yang hina. Hal ini selalu dilakukan oleh mereka setiap tahun untuk mengenangkan sengsara, wafat dan bangkitnya Yesus. Selamat berjuang anak-anaku, kamulah yang selalu diharapkan gereja dan penerus karya penyelamatan Allah di Parokimu.


Sabtu, 01 Maret 2014

RABU ABU DAN MAKNA PUASA BAGI UMAT KATOLIK




Tidak terasa, sebentar lagi umat Katholik akan kembali merayakan hari raya Rabu Abu yang jatuh pada tanggal 5 Maret 2014. Rabu Abu yang merupakan awal dari masa berpuasa dan berpantang selama 40 hari bagi umat Kristiani utamanya umat Katholik, tentu harus dipandang sebagai masa untuk memperbaiki, merenung, dan meresapi atas perjalanan hidup selama ini dan menjalani serta memikul salib kehidupan bersama-sama dengan Yesus.
Pada masa puasa dan pantang ini, umat Katholik tidak hanya dituntut untuk berpuasa dan berpantang, namun juga menjadi lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya. Adalah memprihatinkan jika kita hanya menjadi baik pada masa puasa dan pantang, dan kembali berbuat tercela atau jatuh ke dalam pencobaan seusai ritual suci tersebut.
Memikul beban salib Kristus sendiri tidak hanya wajib dilakukan pada masa puasa dan pantang, akan tetapi juga harus dilakukan sepanjang hidup kita sebagai umat Nasrani. Sebagai umat Katholik kita dituntut untuk selalu berevolusi menjadi lebih baik lagi dari hari-hari kemarin, baik pada masa puasa dan berpantang, namun juga pada saat sesudahnya.
Diakui, tidak mudah bagi kita semua untuk berevolusi menjadi lebih baik lagi, jangankan untuk menjadi lebih baik, sekedar berpantang dan berpuasa saja bagi sebagian orang sudah sangat berat. Padahal kita tidak dituntut untuk melakukan ritual puasa penuh 40 hari seperti yang dilakukan oleh beberapa orang atau kumpulan tertentu pada umat Katholik.
Namun kita tetap harus mau tidak mau untuk berusaha menjadi lebih baik dan jauh lebih baik lagi. Kalau tidak janji baptis yang selalu diucapkan pada malam Paskah menjadi suatu kesia-siaan belaka. Tuhan meski tidak marah saat kita jatuh ke dalam pencobaan, namun Dia mengharapkan agar kita bisa bangkit kembali dan berusaha untuk memperbaiki diri serta tidak putus asa terhadap cobaan hidup yang terus mendera.
Karena keputusasaan adalah awal dari kejatuhan iman, dan kejatuhan iman akan menyeret seseorang jatuh ke dalam jurang dosa yang tidak bertepi. Harus dipahami bahwa hidup itu adalah perjuangan. Dan di dalam berjuang mengarungi kehidupan ini, kita harus menghadapi berbagai pencobaan yang tidak kecil dan tidak sedikit.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Nasrani, terlebih umat Katholik, dituntut untuk selalu berusaha, berjuang dan beriman meski berbagai cobaan hidup datang mendera. Dengan berjuang di dalam kuasa nama Nya, niscaya tidak ada masalah yang tidak dapat dihadapi. Karena Tuhan tidak pernah memberikan cobaan kepada umat Nya yang lebih berat dari yang umat Nya mampu hadapi.
Selamat Berpuasa,

APA ITU RABU ABU ?










Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan, pemeriksaan batin dan berpantang guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita.

Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6).  Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya "The Church's Year of Grace" menyatakan bahwa "Rabu Abu Pertama" terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: "Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu" atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil".
Abu yang digunakan pada Hari Rabu Abu berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Setelah Pembacaan Injil dan Homili abu diberkati. Abu yang telah diberkati oleh gereja menjadi benda sakramentali.

Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat mereka di hadapan umum. Pada Hari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yang harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobat, orang-orang yang berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sungguh selama empat puluh hari dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti Misa untuk menerima abu.

Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu. Yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Keselamatan ialah dari Tuhan Allah kita.